Home Resources Penelitian dan Publikasi Journal SoilRens Pengaruh Komposisi Media Tumbuh (Tanah : Pupuk Kandang) dan EM4 terhadap Pertumbuhan Stek Panili

Journal SoilRens

Pengaruh Komposisi Media Tumbuh (Tanah : Pupuk Kandang) dan EM4 terhadap Pertumbuhan Stek Panili

SoilRens - Vol. 2 No. 3 Juli - 2001   Hal. 142-147

Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan


PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TUMBUH (TANAH : PUPUK KANDANG) DAN EM4 TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PANILI

The effect of growth media composition (soil : manure) and EM4 for vanilla stem cutting growth

Sumanto [1], Taryono [2] dan Jati Purwani [3]

Abstract

The research on “The effect of growth media composition (soil : manure) and EM4 for vanilla stem cutting  growth” have been conducted at green house Installations Spice and Medicinal Crops Cimanggu, Bogor at Mei-July 1998. The objective of this research was to study the effect of growth media and EM4 for vanilla stem cutting growth. The treatments consist of two factor, the first factor was growth media composition consist of the mixture soil and manure with composition 1:0.1; 1:0.25; 1:0.50; 1:0,75. The second factor was EM4 inoculation, consist of without EM4 and EM4 inoculation. Complete randomized design was used, arranged  of factorial design with three replications. Vanilla plant with single leaf, from Research Installations  Spice and Medicinal Crops Cimanggu, Bogor collection was used. The growth media was 2 kg/pot. The observation parameter were : 1) length of buds, 2) number of leaves, 3) weight of buds, 4) number of roots, 5) weight of roots. This results indicated that there was interaction effect between growth media composition and EM4 for weight of buds and number of roots but did not occur for another observation parameter. The highest of  weight of buds and number of leaves were given by treatment combination 1:0.75 (soil:manure) and EM4 inoculation 7.4 g/pot and 2.6 g/pot for weight of buds and number of leaves, respectively.  


Keywords: mixture soil, EM4 inoculation

 

[1] Staf Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

[2] Staf Peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

[3] Staf Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat


PENDAHULUAN

Tanaman panili merupakan tanaman tropis yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, buahnya dapat digunakan sebagai ramuan pada minuman, memberi aroma pada makanan, coklat, es krim produksi obat-obatan dan lain-lain. Tanaman ini Merupakan komoditas ekspor yang mempunyai prospek cerah dalam upaya peningkatan ekspor non migas. Volume ekspor panili tahun 1996 mencapai 507 ton dengan nilai sekitar US $ 12 Juta (Anon, 1998).

Selain itu, komoditas ini memberikan peranan yang penting dalam penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan petani. Minat petani untuk menanam panili relatif tinggi, dilihat dari perkembangan luas areal panili yang meningkat dari  tahun ke tahun.

Tanaman panili termasuk jenis anggrek-anggrekan semi tanah yang menghendaki media tumbuh yang kaya bahan organik dan aerasi tanah yang baik (Gunadi, 1979). Tanaman panili umumnya diperbanyak secara vegetatif secara stek. Stek sulur ditanam dengan panjang 7-8 buku (Dhalimi, et al. 1998), 75-100 cm (Tarigans, et al.  1990). Jika bahan tanaman terbatas dapat digunakan stek pendek (1-3 buku), penggunaan stek pendek harus disemaikan terlebih dulu sehingga di lapangan  cepat beradaptasi.

Perakaran tanaman panili tidak terlalu banyak  dan bulu-bulu akar yang sangat pendek, perakaran yang demikian akan membatasi penyerapan air dan unsur hara terlarut dalam tanah (Ruhnayat dan Dhalimi 1998). Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan stek adalah ketersediaan unsur hara yang dapat diberikan berupa bahan organik dalam bentuk pupuk kandang. Penelitian Rosman (1992) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang dan kompos pada pembibitan stek panili dapat meningkatkan pertumbuhannya.

Pupuk kandang dari kotoran sapi termasuk pupuk dingin yang pengurainnya oleh mikro organisme berlangsung lambat (Rosman et. al. 1992) untuk mempercepat  ketersediaan unsur hara yang terkandung dalam pupuk kandang diperlukan percepatan proses dekomposisi bahan organik, salah satu pupuk biologi yang dapat mempercepat proses tersebut adalah Effective Microorganism 4 (EM4) EM4 adalah suatu kultur campuran mikroorganisme yang terdiri atas bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat dan ragi yang berfungsi sebagai dekomposer sekaligus pupuk biologi (Anonim, 1995). Diperlukan penelitian  untuk mengetahui pengaruh penggunaan media tumbuh  stek panili tanah : pupuk kandang dan inokulasi EM4 terhadap pertumbuhan stek panili satu ruas

BAHAN DAN METODE

Penelitian pengaruh komposisi media tumbuh tanah: pupuk kandang dan EM4 pada pembibitan panili dilakukan di rumah kaca Instalasi Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Cimanggu, pada bulan Mei-Juli 1998. Perlakuan terdiri atas dua faktor, sebagai faktor pertama adalah komposisi media tumbuh yang terdiri atas campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:0;  1:0,25; 1:0,5 dan 1:0,75. Sebagai faktor kedua adalah EM4 yang terdiri atas dua perlakuan yaitu: 1) tanpa EM4 dan 2) diinokulasi dengan EM4. Tanah yang digunakan adalah tanah ultisol dari Rangkasbitung, yang bereaksi masam dengan kandungan bahan organik termasuk rendah.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang disusun secara faktorial dan diulang tiga kali. Stek panili yang digunakan adalah stek satu ruas berdaun tunggal, merupakan koleksi Instalasi Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Cimanggu Bogor, ditanam pada pot plastik berisi media yang telah dicampur sebanyak 2 kg.

Parameter yang diamati meliputi: 1) panjang tunas, 2) jumlah daun, 3) berat tunas, 4) jumlah akar 5) berat akar    

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berat tunas

Pengaruh komposisi media tumbuh tanah: pupuk kandang dan pemberian EM4 menunjukkan interaksi yang nyata terhadap berat tunas (Tabel 1). Tanpa pemberian pupuk kandang, inokulasi EM4 tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap berat tunas  tetapi dengan meningkatnya pemberian pupuk kandang menunjukkan peningkatan berat tunas. Komposisi media tumbuh tanah : pupuk kandang 1:0,50 dan 1:0,75 tanpa inokuasi EM4 menunjukkan peningkatan berat tunas secara nyata  dibandingkan dengan kontrol, hal ini disebabkan dengan meningkatnya pemberian pupuk kandang akan memperbaiki aerasi tanah sehingga pertumbuhan akan menjadi lebih baik, dengan demikian akan mempengaruhi pertumbuhan tunas menjadi lebih baik

Sedang pada perlakuan komposisi media tumbuh 1:0,25 dengan inokulasi EM4 telah menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap berat tunas dibandingkan dengan kontrol, pada komposisi media tumbuh tanah : pupuk kandang 1:0,50 dan 1 :0,75 dengan inokulasi EM4 memberikan peningkatan berat tunas. Hasil tertinggi  dicapai pada perlakuan komposisi media tumbuh tanah : pupuk kandang 1:0,75 dengan inokulasi EM4, dengan berat tunas sebesar 7,40 g/pot. Perlakuan komposisi media tumbuh 1:0,75 tanpa EM4 menunjukkan hasil yang tidak nyata dibandingkan dengan perlakuan komposisi media tumbuh tanah:pupuk kandangn 1:0,25 yang diinokulasi dengan EM4 Pada perlakuan yang sama menunjukkan bahwa dengan pemberian EM4 berat tunas meningkat, pengaruh EM4 terlihat nyata pada perlakuan komposisi media tumbuh tanah : pupuk kandang 1:0,25 dan 1:0,50. Pada komposisi media tumbuh tanah : pupuk kandang 1:0,75 EM4 tidak memberikan pengaruh yang nyata, hal ini disebabkan karena dengan banyaknya pupuk kandang dalam komposisi media tumbuh jumlah mikroba diperlukan telah terpenuhi oleh pupuk kandang.  Dengan demikian pemberian EM4 tidak menunjukkan pengaruh yang berarti, namun demikian EM4 berpengaruh positif untuk diberikan pada pembibitan panili.  Bahan organik sangat penting dalam peranannya  untuk meningkatkan aktivitas mikroba sehingga aktifitas mikroba dalam EM4 bekerja lebih efektif. 

Jumlah akar

Komposisi media tumbuh tanah: pupuk kandang dan inokulasi EM4 menunjukkan interaksi yang nyata  ter­hadap jumlah akar. Pengaruh komposisi media tumbuh tanah : pupuk kandang 1:0 dengan inokulasi EM4 menunjukkan tidak ada peningkatan terhadap jumlah akar, demikian pula pada perlakuan komposisi media tumbuh tanah : pupuk kandang 1 : 0,50 dan 1 : 0,75 inokulasi EM4 tidak menunjukkan peningkatan jumlah akar secara nyata.. EM4 bekerja lebih efektif dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap jumlah akar pada perlakukan komposisi media tumbuh 1 : 0,50,

 

Tabel 1.       Pengaruh interaksi komposisi media tumbuh dan EM4 terhadap berat tunas bibit panili

Perlakuan

Inokulasi EM4

Rata-rata

I0

I1

Tanah: pupuk  kandang

1:0

1:0,25

1:0,50

1:0,75

 

4,33 a  

4,36  a   

5,54 b

6,32 bc

 

4,31 a

6,48 bc

7,32 c

7,40 c

 

4,32

5,42

6,43

6,86

Rata-rata

5,14

6,38

 

Keterangan :    Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata pada taraf 5%

 

Tabel 2.       Pengaruh interaksi komposisi media tumbuh dan EM4 terhadap jumlah akar bibit panili

Perlakuan

Inokulasi EM4

Rata-rata

I0

I1

Tanah : pupuk  kandang

1:0

1:0,25

1:0,50

1:0,75

 

1,5 a

1,7 ab

1,9 ab

2,2 cd

 

1,6 a

2,1 bc

2,5 d

2,6 d

 

1,55

1,9

2,2

2,4

Rata-rata

1,83

2,2

 

Keterangan :    Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata pada taraf 5%

 

Hal ini sejalan dengan meningkatnya jumlah akar maka pertumbuhan tunas akan lebih baik bila diberikan pada komposisi media tanah: pupuk kandang 1 : 0,50 dibandingkan dengan  media tumbuh tanah : pupuk kandang 1 : 0,75. Pengaruh komposisi media tumbuh tanah : pupuk kandang 1 : 0,50 dan EM4 meningkatkan jumlah akar dari 1,5 menjadi 2,5 dan berbeda nyata antar keduanya. Sedang  pengaruh interaksi antara media tanah : pupuk kandang 1 : 0,75 dengan  EM4 terhadap jumlah akar terjadi kenaikan  jumlah akar sebesar 0,04% dibanding dengan perlakuan media tanah : pupuk kandang 1:0,50 dengan Em4 keduanya tidak beda (Tabel 2). Hal ini disebabkan pada komposisi media tumbuh tanah: pupuk kandang 1 : 0,75 jumlah mikroba dari  pupuk telah banyak, sehingga dengan penambahan mikroba dari EM4 sudah tidak menunjukkan pengaruh yang berarti. Dengan  komposisi media tumbuh tanah: pupuk kandang  dengan pemberian pupuk kandang yang lebih tinggi menunjukkan jumlah akar yang lebih banyak.  Hal ini disebabkan sifat pupuk kandang yang dapat memperbaiki sifat fisik tanah, sehingga tanah menjadi gembur, aerasi semakin baik, sehingga menyebabkan perakaran tanaman tumbuh dengan baik, dengan demikian jumlah akar juga akan lebih banyak.

Panjang tunas

Hanya perlakuan pupuk kandang yang memberikan pengaruh nyata terhadap panjang tunas sedang EM4 tidak memberikan pengaruh yang nyata (Tabel 3). Perlakuan  media  dengan perbandingkan 1:0,75 memberikan panjang tunas tertinggi sebesar 7,75 cm dan menunjukkan perbedaan yang nyata dibandingan perlakuan 1:0,25 dan kontrol, namun demikian tidak berbeda nyata terhadap perlakuan  media tanah:pupuk kandang dengan perbandingan 1:50, panjang tunas pada perlakuan tersebut 7,69 cm. Hal ini diduga pemberian pupuk kandang dengan perbandingan 1:0,75 memberikan unsur hara lebih banyak dan kondisi fisik tanah lebih baik jika dibandingkan dengan pemberian yang lain, sehingga unsur hara akan digunakan untuk pertumbuhannya.  Sejalan dengan penelitian Rosman (1992) stek yang diberi pupuk kandang mempunyai tunas yang lebih panjang dibandingkan dengan kontrol maupun media kompos.

Jumlah daun

Perlakuan komposisi media tumbuh tanah : pupuk kandang dan inokulasi EM4 tidak menunjukkan adanya pengaruh interaksi terhadap jumlah daun. Baik pengaruh media tumbuh maupun inokulasi EM4 tidak menunjukkan adanya pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun (Tabel 3). Hal ini disebabkan penambahan jumlah daun relatif lebih lambat dibandingkan akar, sehingga pada umur tertentu yang umurnya relatif masih pendek pertumbuhan jumlah daun masih sama.

 

Tabel 3.       Pengaruh komposisi media tumbuh dan EM4 terhadap panjang tunas, berat akar dan jumlah daun bibit panili

Perlakuan

Treatment

Panjang tunas (cm)

Length (cm)

Berat akar (g)

Weight (g)

Jumlah daun

Number leaves

Tanah : pupuk  kandang

1:0

1:0,25

1:0,50

1:0,75

EM4

Tidak diinokulasi

Inokulasi

 

5,21 a

6,35 a

7,69 b

7,75 b

 

6,69 p

7,23 p

 

1,36 a

1,48 a

1,79 a

1,92 a

 

1,62 p

1,66 p

 

3,32 a

3,45 a

4,21 a

4,02 a

 

3,91 p

3,98 p

Keterangan :    Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata pada taraf 5%


Berat akar

Pengaruh komposisi media tumbuh dan EM4 tidak menunjukkan interaksi yang nyata terhadap berat akar,  Sedang  media tumbuh tanah : pupuk kandang 1:0,50 dan 1:0,75 masing-masing sebesar 1,79 g dan 1,92 g berbeda nyata dengan kontrol dan media tanah : pupuk kandang 1:0,25 (Tabel 3). Hal ini mungkin disebabkan ketersediaan unsur hara semakin meningkat dengan bertambahnya pupuk kandang  disamping itu ketersediaan unsur K dalam daun dan batang stek  panili cukup tinggi dimana menurut Kartono dan Isdijoso (1977) unsur K dalam batang dan daun panili dapat merangsang pertumbuhan akar.

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara komposisi media tumbuh dan EM4 terhadap berat tunas dan jumlah akar, tetapi tidak terjadi interaksi terhadap panjang tunas, berat akar dan jumlah daun. Berat tunas dan jumah akar tertinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan 1:0,75 (tanah:pupuk kandang) dan inokulasi EM4 dengan berat tunas sebesar 7,4 g/pot dan jumlah akar sebanyak 2,6 buah/pot.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1998. Statistik Perkebunan Indonesia 1998-2000. Panili. Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen  Kehutanan dan Perkebunan. Jakarta, 30 hal.

Anonim. 1995. Sustainable Earth Foundation. Yayasan Bumi Lestari.

Dhalimi, A., R. Zaubin, dan  A. Ruhnayat. 1998. Pembibitan panili. Monograf  panili,  Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.  (4):45-48

Gunadi, T. 1979. Anggrek dari bibit hingga berbunga. Penerangan dan Publikasi, Perhimpunan Anggrek Indonesia. Bandung 327 hal.

Kartono, G dan S.H. Isdijoso. 1977. Panili (Vanilla planifolia Andrews). Pemberitaan, Lembaga Penelitian Tanaman Industri. (27):65-86.

Rosman, R., O. Trisilawati dan R. Asnawi. 1989. Tanaman panili, Edisi Khusus Litbang . Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. V(1):

Rosman R., Haryadi, M.H. Bintoro Djoefrie, dan Emy Sadjadi. 1992. Pengaruh pupuk organik dan media tumbuh terhadap pertumbuhan stek batang panili. Pemberitaan Penelitian Tanaman Industri. XVII(3):

Tarigans,D.D., Emyzar,  Rosman, R., Candra, I., dan Ma’mun. 1990. Budidaya dan prospek  pengembangan pala dan panili. Prosiding temu tugas perkebunan/tanaman industri lingkup Propinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Hal 287-302.

Daftar judul jurnal SoilRens lainnya dapat Anda lihat pada tautan berikut: Daftar Judul Jurnal SoilRens